Teman itu Uang

Nama Sandy, Ardi, Irfan, dan Lucky sudah tidak asing lagi di SMA 41, mereka adalh biang keributan yang sering buat maslah di sekolah. Walaupun begitu mereka adalah anak-anak bermasalah yang cukup berprestasi. Mungki hal tersebutlah yang menyebabkan guru-guru di SMA 41 bingung akan hal-hal yang mereka torehkan di sekolah terebut.

Sandy adalah ketua gank yang mereka sebut sebagai Mafia Fagmilia, ia adalah anak yang sering ikut olimpiade kimia dan fisika, selain itu ia juga sering memenangkan beberapa lomba individu seperti lomba menulis cerpen dan esai di tingkat nasional.

Di sisi lain, ia adalah anak yang paling sulit untuk diajak tapat waktu. Ia adalah murid yang paling rajin dalam mencantumkan namanya di daftar anak-anak telat. Para guru melihat tersebut sebagai hal ganjil yang patut untuk diteliti, mungkin bisa jadi karya ilmiah dalam psikologi remaja.

Sedangkan ketiga sahabatnya dalah anak-anak yang menjadi penggerak kegiatan ekskul di sekolah. Ardi adalh ketua tim basket serta wakil ketua MPK, Irfan adalah ketua OSIS, dan Lucky adalah penggagas terbentuknya tim aksi nyata siswa SMA. Mereka sangat berkontribusi dalam pergerakan di sekolah.

Namun, inilah hal yang membuat mereka dicap sebagai anak yang cukup nakal…

Sandy menatap langit yang luas sembari tiduran di padang rumput. Ia begitu menikmati kegiatan yang satai tersebut. Ardi, Irfan, dan Lucky berada di sampingnya menikmati tidur siang yang tak seharusnya mereka lakukan saat itu. Siang itu mereka kembali bolos pelajaran hanya untuk menikmati hari-hari santai di kelas sebelas.

Inilah bentuk-bentuk kenakalan mereka, suka bolos, telatan, gaduh di kelas, dan kadang mereka lakukan adalah berkelahi (bila memang perlu). Namun, semua tindakan tersebut masih dikelompokkan sebagai kenakalan yang wajar bagi siswa.

“Sandy, kamu hari ini bolos lagi? Kamu ini hobi banget sih bolos? Apa kamu memang tidak berniat sekolah?” tanya Pak Fuad guru BK Sandy.

“Ehm…, enggak juga sih, Pak. Saya hanya ingin menikmati waktu istirahat lebih,” jawab Sandy santai.

“Sebagai hukuman untuk bolos kamu hari ini, beso kamu harus membantu Bu Ismi mengajar di kelas olimpiade matematika,” tegas Pak Fuad.

“Wah, besok saya ada ekstra jurnalistik, Pak?” ucap Sandy.

“Pokoknya besok kamu bantu Bu ismi,” Pak Fuad semakin menjelaskan kata-katanya.

“Heh…,” Sandy haya pasrah menuruti kata-kata guru satu itu.

Selesai bertatap muka dengan Pak Fuad Sandy pun kembali meneruskan kegiatannya yang tadi ia tunda. Yup, tiada lain hanya duduk-duduk tak jelas di kantin sekolah.

Anak-anak lain yang juga belum pulang ke rumah mereka masing-masing juga melakukan hal yang sama dengan Sandy. Menghabiskan waktu di kantin sekolah.

Beberapa cewek mencuri pandang ke arah Sandy yang memang cukup terkenal di sekoalh atas kehebatannya dan kenakalannya. Mungkin hal tersebut menjadi daya tarik baginya hingga banyak juga yang suka padanya.

“Sandy, katanya anak SMA 67 sering buat maslah ke anak-anak kita, gimana nih?” tanya Irfan saat mereka sedang berkumpul di ruang kelas yang sedang kosong.

“Apa sih yang mereka lakukan memalak anak-anak SMA kita ya?” tanya Ardi.

“Ya begitu, mereka memalak anak-anak kelas sepuluh dan sebelas,” balas Irfan.

“Lucky, tolong cari info tentang ketua dari anak-anak 67 yang sering buat masalah pada anak-anak SMA kita,” ucap Sandy, Lucky memang seorang yang cukup dandalkan dalam pencarian informasi.

“Untuk masalah ini, aku sudah punya informas lengkap tentang gank yang buat maslah tersebut. Gank anak 67 berjumlah tujuh buah dan sekarang mereka bersatu menjadi gank Seven in One, ketua gank ga jelas ini bernama Genda. Ia anak dari pengusaha meubel,” tutur Lucky panjang lebar.

“Oh, gitu ya?” Sandy tersenyum mendengar informasi yang baru saja ia dapat.

“Memang apa yang lucu?” tanya Irfan, Ardi dan Lucky manggut-manggut setuju atas pertanyaan Irfan.

“Keren tuh, mereka bersatu jadi satu,” ucap Sandy sambil berlalu pergi.

“Dan kita kan hancurkan gank meraka sekali jalan.” Sandy pun pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya di dalam kelas.

“Sepertinya tuakng bikin onar akan mulai berkasi nih?” Ardi tersenyum menatap teman-teman yang lain.

Roof top sekolah menjadi saksi bisu pettemuan gank milik Sandy yang bernama Mafia Famiglia dan komite kedisiplinan siswa yang diketuai oleh Rian seorang anak kelas duabelas.

“Tukang baut maslah, apa yang kalian ingin bicarakan degan kami?” tanya Rian mengawali pertemuan.

“Cukup singkat saja, aku dan teman-teman mau buat perhitungan dengan anak SMA 67 yang sering buat mslah dengan anak-anak SMA kita, kau mau ikut?” jawab Sandy.

“Lalu apa untungnya bagi kami?” tanya seorang anggota komisi kedisiplinan.

“Bukankah ini tugas kalian juga sebagai polisi yang memberi keamanan bagi warga sekolah?” Sandy mengembalikan kata-kata anggota komite kedisiplinan tersebut.

“Akan aku pertimbangkan,” ucap Rian yang langsung saja pergi meninggalkan Sandy dan ganknya.

Sandy hanya tersenyum menatap langit yang luas di atas sana…

Rian yang sudah terluka parah sudah tak bisa lagi untuk melanjutkan pertempurannya yang seorang diri melawan anak-anak dari SMA 67. Ia yang menjadi ketua kedisiplinan merasa berkewajiban untuk mengurusnya seorang diri tetapi iilah yang terjadi. Ia menjadi mainan anak-anak 67 yang berjumlah duapuluh orang.

Saat itu ia sudah tak bisa lagi tuk berdiri dan ia pun terjatuh…

Saat ia terbangun, beberpa bagian dari tubuhnya sudah terobati dan diperban. Ia menatap sekekelilingnya dan ia dapati anak-anak 41 berada di sekitarnya.

“Sudah siuman?” senyum ceria Sandy menyapanya. Sandy sendiri terlihat babak belur dengan sedikit memar di wajahnya.

“Terima kasih untuk bantuannya,” ucap Rian.

“Hehe.., ini sudah tugas seorang adik kelas pada kakak kelasnya,”  Sandy kembali menempelkan kantong es ke wajahnya.

Nama Sandy dan ganknya kini semakin terkenal di sekolah apa lagi setelah kejadian perkelahian antara ganaknya dan anak SMA 67. Sandy semakin dianggap sebagai pahlawan. Namun, bagi Sandy sendiri hal tersebut adalah hal yang memang harus ia lakukan. Karena ia tak mau teman-teman satu SMA-nya diperlakukan seperti itu oleh anak SMA lain.

“Wah-wah, sekarang kamu jadi semakin terkenal ya, San?” ucap Riza, teman sekelas Sandy.

“Hehehe.., begitulah. Aku juga ga tahu kok bisa-bisnya aku tambah terkenal,” Sandy tersenyum simpul seperti biasa.

“Sekarang sudah kembali aman semua. Aku sebagai perwakila dari anak-anak satu SMA mengucapkan terima kasih untuk tindakanmu waktu itu,” Riza membalas senyum Sandy.

Hari demi hari berlalu, tak ada lagi berita tenang adanya palak-memalak yang terjadi di SMA 41, tim komite kedisiplinan pun kini semakin tegas dalam menegakkan aturan, hingga beberapa kali Sandy dan gank sering ribut dengan mereka. Namun, hal tersebut hanya sebagai selingns aja bagi Sandy ataupun bagi Rian yang sering ikut dalam ribut-ribut tersebut.

Hingga suatu hari, setelah beebrapa minggu telah berlalu sejak hancurnya gank Seven in One. Sandy dapati ketiga tamnnya berada di rumah sakit, menurut kabar yang ia dapat ketiga tamnnya dihajar oleh sekelompok anak yang ingin balas dendam atas kekalahannya gank Seven in One.

“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Riza yang masih kesusahan mengambil nafas karena baru saja tiba di rumah sakit.

“Mereka baik-baik saja, mereka hanya luka-luka kecil dan beberapa bagian ada yang retak tulangnya,” jelas Sandy.

“Sekarang kamu mau ke mana Sandy?” tanya Riza yang merasa ada hal yang berbeda dari sosok Sandy biasa ia kenal.

“Jangan bilang kau akan ke tempat anak-anak yang buat Ardi, Irfan, dan Lucky babak belur,” lanjut Riza.

“Kau sudah tahu sendiri kan jawabannya,” Sandy mejawab dengan intonasi yang belum pernah ia dengar. Intonasi datar dan tegas.

“Aku tidak akan membiarkanmu untuk ke sana, aku tahu kamu tak terima teman-temanmu diperlakukan seprti itu tapi kamu tak mungkin ke sana sendirian,” Riza menatap mata Sandy dengan penuh keyakinan pula bahwa ia akan membuat Sandy tidak pergi ke mana-mana.

“Riza, bagiku teman layaknya uang. Dan mereka adalah teman-teman yang sangat berarti bagiku,” ucap Sandy.

“Teman dan uang sama-sama hal yang tak mudah untuk kau dapatkan dan begitu mudah untuk hilang bila kau tak bisa untuk menjaganya. Aku tak akan menghilangkan arti teman dalam hidupku begitu saja. Aku akan jaga pertemananku,” lanjut Sandy.

“Tapi tidak begini caranya,” Riza tidak mau mengalah.

Namun, Sandy sudah tidak butuh lagi kata-akta dari Riza. Ia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit tempat teman-temannya dirawat. Riza yang inginmenghentikan Sandy pun tak dapat melakukan apa-apa…

Sementara itu, di roof top sekolah, Rian yang sedang duduk sendiri menatap langit yang sudah mendung melangkahkan kakinya menuju suatu tempat.

Sandy terus melangkah menuju tempat yang ia telah pastikan ia akan dapati anak-anak yang telah membuat teman-temannya babak belur hingga masuk rumah sakit. Ia tak pedulikan lagi langit yang sudah gelap. Mendung dan siap untuk hujan deras.

Selesai!!!

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s