Rambun Pamenan dan Tongkat ManaoSungsang 2 [Sekuel Rambun Pamenan]

Hidup, tak ada yang abadi. Setiap manusia akan menemukan akhir dari hidup dari mereka masing-masing. Dengan cara apa kematian itu datang tak ada seorang pun tahu. Namun, hidup adalah perjalanan yang seharusnya kita tak sia-siakan hanya untuk hal yang tak berguna..
Akankah kita kan tertulis dalam hidup, dalam sanubari orang-orang yang kita kenal sebagai orang yang baik atau mungkin sebaliknya, kita akan dikenang sebagai sampah bagi hidup orang-orang. Hanya satu hal yang membuat kita terpatri di pikiran orang, yaitu tindakan kita.

Rajo angek garang, seorang raja lalim yang kini telah menjadi jasad tak berdaya, tergeletak begitu saja di depan istananya yang megah bersama bawahan-bawahannya yang kini sudah tak bernyawa pula. Namun, dendam, hati kotor, dan semua energi negatifnya masih selimuti seluruh tubuhnya, hal tersebut sungguh menarik perhatian makhluk-makhluk yang tak terlihat tuk mengerubutinya. Bermaksud untuk memakan bangkainya dan menjadikan mereka lebih dari bangsa mereka.
“Tak ada yang boleh untuk menyentuh jasadku!” ucap rao angek garang kepada makhluk-makhluk yang tak memiliki wujud pasti yang telah mengerubui jasadnya.
“Wahai raja lalim yang tak lagi berdaya atas jasadnya, tak bisakah engkau tuk berikan kami sebuah makan lezat ini kepada kami. Kami sungguh sangat bangga akan tindakanmu semasa kau hidup. Namun kini, engkau hanyalah jiwa yang tak diterima oleh bumi dan langit, engkau tak lagi berarti,” ucap salah satu makhluk tersebut.
“Aku masih punya jiwa ini, tak peduli bumi, langit, ataupun semua isi alam raya ini tak menerimaku. Namun, dendamku pada anak kecil yang telah merusak semuanya masih berada di dalam jasadku. Aku ingin kembali tuk membalas atas perlakuannya padaku,” wajah murka rajo tak bisa tuk sembunyikan kemarahannya.
Mereka yang menatap mata tersebut pun merasa ada perasaan yang begitu menakutkan dalam dirinya. Sungguh raja yang tak akan bisa terganti akan orang lain, dialah raja dari raja yang paling kejam dalam menatap musuhnya.
“Bisakah kita bekerja sama? Kami akan balaskan dendammu dan engkau berikan jasadmu pada kami, jiwamu pun akan senang dengan begitu, apakah engkau bersedia untuk berkerja sama dengan kami?” makhluk tak berbentuk tersebut memberikan sebuah penawaran pada jiwa rajo angek garang yang tak bisa apa-apa lagi.
“Hem…, apa yang bisa aku percaya dari makhluk seperti kalian?” rajo tak berbeda sedikit pun ia masih angkuh dengan dirinya.
“Kami hanya bisa melakukan sesuatu dengan bebas bila kami telah memenuhi persyaratan yang telah lakukan pada makhluk-makhluk lain, sehingga engkau tak perlu khawatir, kami pasti akan membantu membalas dendam pada musuhmu Rambun Pamenan,” ucap makhluk tak berbentuk tersebut.
“Baiklah, aku mempercayaimu. Aku akan berikan jasadku dan engkau berikan aku balas dendam itu ke jiwaku yang masih murka atas Rambun Pamenan, anak kecil yang tak tahu diri.”
Seketika itu pula, makhluk-makluk tak berbentuk itu segera menikmati jasad Rajo angek garang. Mereka berebut tuk menikmati setiap senti dari seluruh jasad Rajo angek garang. Tak lama kemudian, habis sudah jasad Rajo angek garang tetapi hal tersebut tak menyelesaikan mereka untuk menikmati makanan tersebut, alih-alih mereka saling memakan kaum sebangsa mereka untuk menikmati makanan mereka.
Setiap dari mereka makan teman mereka sendiri hingga hanya tinggal satu yang masih tersisa dari mereka. Makhluk yang sungguh menjijikan, mereka saling memakan bangsa merreka sendiri hanya untuk mendapatkan makanan. Mungkin inilah yang disebut dengan kekuatan keserakahan, mereka bisa saling makan demi hal kecil. Seonggok jasad raja lalim.

Di suatu tempat lain, Rambun Pamenan tengah berlari menuju suatu tempat di mana ibunya dibuang oleh sang raja, Rajo angek garang. Ia susuri hutan-hutan yang semakin lebat dan penuh rintangan. Namun, hal terebut tak menjadi alasan ia menyerah tuk mencari tempat ibunya berada.
“Bunda, tunggu aku. Rambun Pamenan anakmu ini, akan aku temukan engkau dan kita akan hidup bahagia kembali dengan kak Reno Pinang,” ucap Rambun pada dirinya sendiri.
Pencariannya pun berakhir, ia temukan sebuah gua gelap, tiga orang penjaga telah menunggu dirinya. Tanpa perlu berpikir lama, Rambun langsung menyerang tiga penjaga terbut dan langsung masuk ke dalam gua tersebut. Di dalam gua terebut masih banyak penjaga pula yang menjaga ibundanya. Rambun sadari, bila ia terlalu tergesa-gesa untuk menyerang hal yang buruk bisa saja terjadi pada dirinya sehingga ia urungkan niatnya untuk langsung menyerang mereka.
Sebuah siasat telah ia siapkan dengan cepat, ia akan buat sebuah serangan di malam hari. Sementara itu, ia kini menunggu malam tiba sembari mengobati luka-luka yang ia derita saat pertarungan dengan para pengawal, Panglimo Tadung, dan Rajo angek garang.
Malam merangkak ke langit, mengganti terang siang. Matahari telah kembali beristirahat. Rambun Pamenan telah bersiap untuk melakukan siasatnya. Penjaga yang sedang terjaga hanya berjumlah lima orang itu hanya urusan kecil baginya untuk melumpuhkan mereka satu persatu.
Diawal serangan Rambun langsung melumpuhkan dua orang penjaga. Ia kemudian menuju tempat ibunya berada.
“Bunda, bunda, ini aku anakmu Rambun Pamenan,” ucap Rambun lirih.
Lindung Bulan yang melihat anaknya berada di hadapannya pun tersentak kaget. Tak pernah ia sangka anak laki-lakinya berada di hadapnnya.
“Rambun? Apa yang engkau lakukan di sini? di sini sangat berbahaya pulanglah,” pinta Lindung Bulan sebagai ibundanya.
“Tidak, Bunda. Aku tak akan pergi tanpa membawa bunda pergi dari sini,” ucap Rambun tegas.
“Bagaimana bila Rajo angek garang tahu?” tanya Lindung Bulan.
“Raja lalim tersebut telah mati, bunda. Bunda tak perlu khawatir lagi. Aku akan segera membebaskanmu, Bunda,” Rambun pun membuka pintu ruangan tempat ibunya disekap dengan merusak pintu tersebut..
Akhirnya, Lindung Bulan pun bebas dari kehidupannya hanya tak berdaya di sekap oleh Rajo angek garang. Rambun pun pergi meninggalkan tempat ibundanya disekap bersama sang ibu tercinta…

Hitam
Putih
Sebuah dualisme hidup
Kebaikan
Kajahatan
Tak akan ada akhir
Dari perselisihan
Dua kubu ini
Pasti terus berlangsung
Bergulir bersama masa
Menjadi kawan perselisihan
Musuh, satu sama lain..

Mak tuo menatap langit yang begitu gelap, mungkin ada hal buruk yang akan terjadi. Itu ia rasakan ketika menatap langit gelap. Mak tuo memang mempunyai perasaan yang tajam akan tanda-tanda alam yang terus bercerita akan alur hidup makhluk yang berada di dalamnya.
Kematian. Hal itulah yang ia raakan pada dirinya. Ia memang sudah tua dan tepatlah bila ajal telah menantinya tetapi ia sendirri tak bisa untuk memastikan pertanda-pertanda yang ada di alam, ia hanya dapat memprediksi, ia sadari ia hanya makhluk lemah yang tak lebih hebat dari makhluk lain…
Secarra cepat ia mengalihkan pandangannya ke sisi kiri tempat ia duduk sembari menatap langit. Ia dapati sesosok yang tak jauh berbeda dari sosok yang pernah ia beri sebuah pedang yang kini seharusnya telah mati.
“Siapa kau?” tanya mak tuo.
“Hahaha…, kau sudah pikun nenek tua? Aku adalah orang yang telah kau bunuh dengan cara licikmu menggunakan anak kecil bernama Rambun Pamenan,” seringai lebar raja lalim yang tak akan terlupa oleh Mak tuo pun muncul kembali di hadapannya.
“Tak akan kulupa akan dirimu yang tak tahu diuntung itu. Namun, bukankah kau sudah mati? Bukankah kau seharusnya hanya menjadi bangkai yang membusuk?” ucap Mak tuo.
“Kini, aku yang kau kenal sebagai Rajo angek garang telah hidup kembali, aku pun tak seperti dulu lagi, kini aku semakin kuat. Aku tak akan tertandingi oleh siapapun. Karena aku Rajo angek garang yang telah menyatu dengan iblis!”
“Kau memang iblis dari dahulu dan kini kau semakin menjadi iblis. Pantas saja aku merasakan hawa hitam yang sedari tadi menggangguku.”
“Di mana kau simpan pedangku yang dulu selalu menjadi lambang kekuasaanku. Di mana nenek tua?”
“Kau tak akan temukan benda tersebut di sini,” Mak tuo sudah siap untuk bertarung. Ia sudah memasang kuda-kuda.
“Engkau tak akan bisa menandingi kehebatanku kini. Sebaiknya kau cepat beritahu atau kau pun akan mati..”
Udara dingin dan angin yang berhembus kencang telah menjadi saksi bisu. Mak tuo kini hanya menjadi jasad yang tak bisa apa-apa lagi. Rajo angek garang telah mebalaskan dendamnya pada sang Mak tuo yang duu telah menjadi gurunya, yang telah memberi ia kekuatan, kekuasaan.
Rajo pun meninggalkan jasad mak tuo begitu saja. Ia murka, hingga akhir hidupnya, mak tuo tetap tak memberinya tahu di mana tempat ia simpan pedang miliknya.

Bersambung…

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s