Kelas Literasi Informasi

Literasi informasi, sebuah kemampuan untuk mengetahui kapan dan mengapa kita membutuhkan informasi, bagaimana cara mencari, mengevaluasi, serta menggunakannya dengan cara yang sopan. Kemampuan ini adalah kemampuan yang penting untuk dimiliki kita yang ingin menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di lembaga pendidikan, terutama di pendidikan tinggi kemampuan literasi informasi menjadi salah satu bagian dari kegiatan orientasi. Dan pastinya, yang menjadi pembimbing di sesi ini adalah seorang pustakawan. Karena pada dasarnya, seorang pustakawan yang baik, bisa dan mampu untuk mengaplikasikan literasi literasi sebagai bagian dari layanan yang ia berikan di perpustakaan.

Kegiatan literasi informasi bermacam-macam bentuknya. Mulai dari kegiatan ke perpustakaan untuk mengenal perpustakaan dan bagaimana cara mengaksesnya hingga menjadi sebuah kelas tersendiri. Kelas Literasi Informasi. Setidaknya, aku sudah pernah menikmati tiga kelas literasi informasi selama aku hidup ini (ealah bahasanya). Continue reading

Jajan Ceriping Gethuk

Bingung mau nulis apa tentang makanan ini. Karena nyobain aja belom pernah, emang yang namanya pengalaman itu penting. Ya ialah penting, apa lagi kalo mau bahas makanan tapi belom pernah nyobain makanannya. Mau kasih komentar gimana? bingung kan… Namun, terlepas dari verlom pernah nyobain makanan tersebut, aku akan mengiklankan makanan yang bernama “ceriping gethuk” pada kalian. Jajan ini dibuat oleh temanku, sebut saja namanya Naseh. Ia memasarkannya di daerah Jogja, nah bagi kalian yang berdomisili di Jogja coba deh untuk cari tahu atau nyobain dengan cara membelinya.Untuk liat-liat bentuk makanannya bisa langsung ke instagramnya ke sini. Sekian dulu dari saya, bagi kalian yang mau nyobain silakan banget loh untuk dipesan.

Berbincang Dengan Bulan

Bulan terlihat begitu bulat di langit malam ini, ia sempurna di kala purnama. Obrolanku dengannya pun dimulai di pukul sembilan malam ini. Ini mungkin hal yang terlihat aneh bagi kalian tetapi cukuplah kalian nikmati saja apa yang aku obrolkan dengan Chandra. Aku tarik napas dalam-dalam dan megnhembuskannya perlahan, tersenyum, tanganku kuarahkan ke bulan seakan ingin meraihnya.

“Kau terlalu jauh untuk aku raih, terlalu kekanak-kanakan aku mencoba meraihmu dari sini. Tak mungkin kan itu terjadi,” ucapku mengawali obrolan kami.

Kalian pasti tahu, obrolan ini pastinya bukanlah obrolan yang sesungguhnya. Aku hanya bermonolog ke arah bulan. Seakan ia mendengarkan segala ceritaku. Namun, yakinlah bahwa bulan mendegar segala cerita kita bila kita mengajaknya berbicara. Continue reading

Mukidi (Sebuah cerita yang diambil dari postingan temen di grup WA)

​Mukidi versi sholeh:

*_MUKIDI SETELAH MASUK PESANTREN_*

🕌🕋🕌🕋🕌🕋🕌🕌🕋🕌🕋🕌🕋🕌
*Seorang wanita gaul ( mukiyem ) bertanya pada Mukidi yang sdh soleh:*
_*Mukiyem*_ : “Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?”
*_Mukidi_*: “Bukan begitu Mbak, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mbak sebagai seorang wanita”
*_Mukiyem_* : “Maksudmu?”
*_Mukidi_* : “Coba saya tanya sama Mbak, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?”
*_Mukiyem_* : (Sambil mengernyitkan dahi) “T..Tentu gak boleh sembarangan dong!”
*_Mukidi_* : “Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri”.
*_Mukiyem_* : (Sambil agak malu) “Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya”
*_MUKIDI_* : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) “Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka”
*_Mukiyem_* : (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) “Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas”.
*_Mukidi_* : (Sambil tersenyum) “Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga”.
*_Mukiyem_* : “Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.

Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas Mukidi sudah punya pacar belum?”
*_Mukidi_*: “Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar.”
*_Mukiyem_* : (Kebingungan) “Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa”
*_Mukidi_*: “Begini Mbak, kira-kira kalau Mbak diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??”
*_Mukiyem_* : “Ya jelas yang baru lah”
*_Mukidi_*: “Kalau suatu saat Mbak menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas”
*_Mukiyem_* : “Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi…”
*_Mukidi_*: “Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mbak. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyayang terbaik untuk pasangan kami kelak”
*_Mukiyem_* : (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) “Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?”
*_Mukidi_* : (Matanya berbinar, perkataannya berat) “Mbak, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah”.
*_Mukiyem_*: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) “Terimakasih Mas Mukidi, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”
*_Mukidi:_*

*_“امين يا رب العالمين”_*

Jarak

Jarak jatuh cinta dan patah hati itu sangatlah dekat. Selengkung senyum dan sebaliknya.
Namun, jarak acuh dan tak acuh sangatlah jauh. Bumi dan langit mungkin bisa jadi perandaiannya.
Karena…
Jangankan bertanya kabar. Berada dalam doanya pun tidak.

Permadi Heru P
24 Juli 2016

Kepada apa kalian tak acuh?