Sebuah Kisah Pilu
May 10, 2011 at 10:43 am Leave a comment
Biru langit masih sebiru hari-hari biasa, hijau rumput masih sehijau warna rumput pada umumnya. Namun, kesedihan sudah tak lagi sama dengan kegembiraan yang kemarin tercipta di tempat itu, di tempat bencana alam terjadi. Sebuah gedung berlantai lima sudah tak lagi berbentuk seperti apa mestinya. Puing-puing bangunan telah menjadi pemandangan yang lumrah di tempat tersebut, gempa telah mempora-porandakan semuanya.
Sosok-sosok manusia terlihat gontai berjalan, beberapa di antara mereka terbaring begitu saja. Luka terlihat jelas di sekujur tubuh mereka. Baju-baju yang indah tak lagi terlihat, semua telah menjadi baju-baju gembel dengan beberapa tempat dipenuhi dengan darah yang mengalir. Air mata membasahi tanah, mereka menangis. Menangisi diri mereka sendiri atau mungkin menangisi orang-orang yang berhaga bagi mereka yang mungkin telah meninggal ataupun masih hidup dengan keadaan tak sadarkan diri.
Tim relawan tanggap bencana muncul tak lama setelah itu, seperti melihat air di padang pasir. Setiap mereka yang selamat menarik satu demi satu tim penyelamat untuk menolong keluarga ataupun orang-orang yang mereka cintai. Mereka bak menemukan dewa penolong yang mungkin saja bisa menghidupkan orang-orang yang mereka cintai yang tergeletak tak berdaya.
“Baik, semuanya, evakuasi semua anggota keluarga yang masih selamat. Jangan biarkan korban bertambah, alihkan ke zona aman. Tim medis, segera tangani orang-orang yang terluka, dan untuk tim penyelamat langsung menuju puing-puing gedung. Kita cari orang-orang yang mungkin masih ada di dalam gedung,” ucap Rafa tegas.
“Siap!” ucap yang lain serempak.
Tim bantuan pun langsung melaksanakan tugas seperti apa yang diperintahkan Rafa. Anggota keluarga yang masih selamat dijauhkan dari para korban, hal tersebut dilakukan agar tak menambah jumlah korban dan tidak mengganggu kegiatan medis para tim bantuan. Tim medis langsung memeriksa para korban dengan cekatan, sementara itu tim penyelamat langsung bergerak untuk menyisir gedung-gedung yang runtuh. Berharap menemukan banayk orang yang masih selamat di dalamnya. Bukan hanya menemukan mayat-mayat di dalam gedung-gedung tersebut.
‘Aku tak akan biarkan hal yang dulu terjadi, ya Allah aku berdoa padamu. Jangan penuhi lagi hatiku dengan rasa tersiksa melihat saudara-saudaraku kugendong tanpa nyawa di dalamnya, selamatkan mereka ya Allah,’ ucap Raka dalam hati. Ia berlari secepat mungkin menuju sebuah gedung yang runtuh.
…
2 tahun yang lalu
Pelatihan tanggap bencana, sebuah pelatihan yang dibuat oleh mahasiswa fakultas kedokteran kepada seluruh mahasiswa yang berkeinginan untuk menjadi relawan saat terjadi sebuah bencana, serta melatih mahasiswa untuk bisa melakukan bantuan pertama bila terjadi sebuah kecelakaan.
“Raka, sudah siap untuk beraksi?” tanya Yudha padanya.
“Haha, tentu sudah. Ayo kita menjadi seorang penolong!” ucap Raka dengan penuh semangat.
Seperti biasa, Raka yang memiliki sifat riang selalu bersemangat untuk menjalani apa yang ia ikuti. Meski ini bukanlah untuk yang pertama kali ia mengikuti pelatihan kesehatan, kegiatan kali ini sangat membuatnya bersemangat. Ia merasa apa yang ia dapat dipelatihan sebelumnya belumlah cukup. Sehingga, ia berharap di pelatihan kali ini ia bisa mengobati rasa haus akan pelatihan kesehatan yang ia dapat sebelumnya.
Hari pertama di sesi pertama ini adalah sesi teori, di mana semua peserta pelatihan mendapat teknik-teknik pertolongan pada orang-orang yang mengalami kecelakaan. Sesi teori yang terbagi atas 4 subsesi yang mengajarkan beberapa hal penting tentang penanganan korban ramai akan pertanyaan-pertanyaan yang mucul dari para peserta. Para peserta terlihat begitu antusias dalam mendalami bagaimana menjadi penolong yang baik. Hal tersebut pun membuat wajah para panitia pelatihan begitu cerah, mereka merasa tak sia-sia mengadakan pelatihan tersebut. Dengan begitu banyak pertanyaan yang muncul, semakin dalam pula teori-teori yang didapatkan oleh para peserta.
Setelah istirahat untuk sholat dan makan. Di sesi dua, para peserta di bagi menjadi beberapa kelompok dan mereka mendapat pelatihan praktek untuk pendalaman teori-teori yang mereka dapat di sesi teori tadi. Praktek mobilisasi menjadi praktek pertama yang dihadapi oleh Raka dan Yudha.
“Raka, aku mau coba teknik gotong orang yang pemadam kebakaran. Sini aku angkat kamu,” ucap Yudha dengan wajah cerah.
“Ehm..,” berbeda dengan wajah Yudah yang begitucerah, wajah Raka terlihat tak enak dengan ucapan yang terlontar dari mulut Yudha.
‘Aduh, bisa-bisa jadi korban beneran nih,’ ucap Raka dalam hati.
Dengan setengah hati, Raka pun mengikhlaskan dirinya untuk menjadi ‘korban’ yang akan digotong oleh Yudha. Meski ia tak begitu yakin dengan apa yang akan terjadi tetapi ia bersedia. Apa mau dikata. Inilah hidup.
“Hwaa..,” ucap Raka kaget, ia takmenyangka badannya akan merasa begitu tak enak dengan teknik penyelamatan yang satu ini. Teknik yang dilakukan oleh Yudha sepreti kurang begitu berhasil dengan baik.
“Hei-hei, hati-hati,” ucap Raka kepada Yudha. Namun, sayangnya Yudah tak mendengarkan ucapan Raka.
Yudha pun menggotong Raka dan membawanya berjalan berputar-putar. Wajah Yudha begitu senang, berhasil menggotong dengan teknik ini.
“Hei, Semantik Gan,” ucap Raka pada Yudha. Entah apa yang dipikirkan oelh Raka, mengapa hal tersebut yang ia ucapkan dalam keadaan digendong versi pemadam kebakaran.
“Semantik Gan?” terdengar kata-kata Raka yang kembali terucap oleh seorang panitia.
Panitia yang berasal dari jurusan kedokteran tak mungkin mengenal kata-kata semantik. Di mana kata-kata tersebut muncul di ranah sastra, terutama di bidang bahasa. Semantik adalah hal yang tak jauh dari hal yang berhubungan dengan makna sebuah kata. Itulah yang dipelajari di sastra.
“Eh, emang tadi ‘Semantik Gan’ itu artinya apa?” tanya teman satu kelompok Raka kepada Raka.
“Oh, itu artinya Semangat Anak Cantik dan Ganteng, hehehehe..,” ucap Raka dengan bangga.
Di sesi-sesi berikutnya pun Raka dan Yudha kembali membuat gebrakan. Mereka mungkin bisa dikatakan sebagai pembuat onar pelatihan. Seharusnya mereka diobat penenang dahulu oleh para panitia sebelum dimasukkan sebagai peserta. Di sesi praktek tentang BLS (Basic Life Support) Raka dan Yudha mendapat simulasi tentang seorang laki-laki tua tertabrak mobil di jalan. Mereka membuat keki para pelatih mereka dengan tindakan-tindakan yang sebetulnya tidak perlu, seperti begitu menghayati simulasi layaknya pelatihan teater yang mereka ikuti.
“Oke, sekarang setelah melakukan posisi recovery apa yang akan kamu lakukan?” tanya Lana, pelatih mereka.
‘Ehm.., apa ya?’ taya Yudha dalam hati, ‘Aha!’ lanjutnya. Ia terlihat begitu yakin akan apa yang akan ia lakukan.
“Cring…,” ia angkat tangannya ke atas dengan tangan mengadah ke atas, tidakan yang tak perlu ia lakukan pun ia lakukan.
“Wkakakakaka…,” Raka tertawa lepas melihat aksi sahabatnya satu ini melakukan hal yang tidak penting.
‘Hei, emang kita lagi di film kamen rider? Ada-adanya tidankan seprti itu,’ ucap Raka dalam hati.
“Bukan itu!!! Kamu harus melakukan evaluasi,” ucap Lana yang cukup stres dibuat Yudha dan Raka.
Di hari kedua pelatihan, sesi teori berisi training motivasi untuk menjadi seorang relawan bencana alam. Begitu banyak cerita, begitu banyak pula hal-hal yang dapat dipelajari di sana. Di sesi itulah muncul benih-benih keingin dari para peserta untuk menjadi seorang relawan, tak terkecuali untuk Raka dan Yudha.
Sesi kedua untuk hari kedua adalah sumulasi bencana. Di sana para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk menjadi sebuah tim relawan yang menghadapi sebuah situasi paska bencana gempa bumi.
“Tolong suami saya.”
“Tolong ayah saya.”
“Cepat, keluarga saya dalam keadaan kritis,” begitu ribut suara para panitia yang berperanmenjadi keluarga korban bencana.
“Oke, tenang-tenang. Jangan panik,” ucap Raka lantang mencoba untuk menenangkan ‘para keluarga korban’.
“Siapa pemimpin kalian, tentukan salah satu!” suara lantang seorang panitia dari pengeras suara memecah keributan.
“Saya pemimpinnya,” ucap Raka.
Raka pun bergerak di depan untuk memimpin pasukan penyelamat yang baru saja terbentuk tersebut. Setiba di tempat simulasi, ia mencoba untuk mengkoordinir anggotanya. Namun, hal yang ia lakukan sia-sia. Semua anggota timnya telah menyebar tanpa ada perintah, mereka sudah ditarik oleh setiap anggota keluarga korban yang selamat untuk menyelamatkan keluarganya.
‘Hei, kok pada nyebar ga jelas gini?’ Raka sedikit kesal dengan timnya.
‘Baiklah, mereka mungkin langsung ke para korban,’ lanjutnya berkata pada dirinya sendiri.
Setelah ia melihat para anggotanya, kenyataan pahit terliaht begitu menedihkan. Anggotanya terpisah tanpa meilhat jumlah dari mereka. Ada salah satu kelompok yang beranggotakan dua orang, sedangkan yang lain bergerombol begitu banyak.
Keadaan semakin panas ketika panitia mengumumkan bahwa akan ada gempa susulan lima menit lagi. Peserta terlihat sedikit panik dengan pengumuman tersebut, karena setiap dari mereka belum siap untuk membawa korban ke zona hijau atau zona aman.
“Raka, sudah tidak ada mitela lagi,” ucap seorang peserta perempuan yang sedang membungkus tangan korban dengan bidai dan mitela.
“Gunakan ini saja,” ucap Raka langsung mencopot jaketnya.
“Eh, ga usah ga usah,” ucap panitia kepada Raka.
“Pengikatan bidai berprinsip imobilisasi, jadi jangan sampai tangan tetap bisa bergerak. Serta kita harus lalui dua sendi saat pembidaian,” Raka mencoba untuk mengingatkan perempuan yang menjadi teman satu timnya sembari membantu untuk membidai tangan korban.
Suara sirine terdengar keras, hal tersebut menandakan gempa susulan telah datang. Simulasi pun akhirnya selesai, dua orang korban selamat dan tiga di antara mereka semakin parah karena masih di lokasi bencana.
“Sial..,” ucap Raka tertunduk. Ia terlihat begitu sedih.
Air mata menetes pelan dari kedua matanya. Ia merasa ia telah gagal, ia kembali mendapati orang-orang ‘mati’ di sekitarnya kembali. Meski ini hanya simulasi, ia tak menganggap hal tersebut hanya sekedar simulasi…
Seorang panitia sempat mengabadikan sosok Raka yang tengah tak berdaya, dengan wajah tertunduk.
“Hei, kau tak apa-apa?” tanya seorang perempuan pada Raka.
“Ah iya, tidak apa-apa,” ucap Raka yang mengusap air mata yang ada di pipinya ia menutupi air mata tersebut dari seorang peserta perempuan tersebut.
“Aku Indah, kamu siapa?” tanya perempuan tersebut yang memperkenalkan dirinya dengan nama Indah.
“Iya, tidak apa-aa kok,” Raka tersenyum menatap Indah.
“Aku Raka,” ucap Raka singkat.
Simulasi berakhir, evaluasi dimulai. Setelah evaluasi kegiatan pelatihan dua hari tersebut pun berakhir pula. Pengalaman baru pun tertulis di lembar hidup setiap dari mereka yang ada di sana…
…
Saat ini, di daerah bencana gempa bumi…
“Ayo, kuatkan dirimu, jangan menyerah,” ucap Raka pada seorang anak kecil yang ia gendong sembari berlari menuju tempat aman.
Air mata kembali menetes dari kedua mata Raka. Ini sudah kedua kalinya ia ikut dalam tim penyelamatan korban bencana, tidak kemarin, tidak saat ini. Ia selalu bergerak dengan linangan air mata di wajahnya. Ia sudah saksikan tubuh-tubuh tak berdaya ia angkut dengan tubuhnya.
Sudah beberapa kali pula ia mengangkut beberapa tubuh tak bernyawa. Air mata menjadi teman setia perjalanan penyelamatan yang ia lakukan. Tubuhnya bukanlah menjadi alasan rasa sakit yang ia rasa. Namun, perasaanya yang menjadi alasan rasa sakit yang begitu dalam menusuk ke dalam rongga dadanya, menusuk tepat ke jatung hatinya. Menatap sosok demi sosok yang terbaring tak berdaya tanpa nyawa, atau sosok-sosok yang masih ia terus coba untuk pertahankan kehidupannya.
‘Ia adalah saudaraku, ia sama sepertiku, ia juga manusia,’ ucap Raka dalam hatinya. Hanya air mata yang terlihat, tak ada suara yang tercipta.
Debu-debu berterbangan di dalam reruntuhan sebuah gedung yang dimasuki oleh Raka. Ia susuri ruang demi ruang dalam gedung tersebut, mencoba untuk mencari sosok-sosok yang masih ada di dalam reruntuhan tersebut. ia sangat berharap ia tak bertemu sosok-sosok tanpa nyawa, ia sangat berharap yang ia temuai sosok-sosok yang masih bertahan hidup. Namun, ie kembali harus menerima kenyataan. Hanya seonggok tubuh tak bernyawa yang ia temui di dalam reruntuhan gedung tersebut, sebuah tubuh yang tertimpa runtuhan puing-puing bangunan.
Raka memejamkan kedua matanya, ia menghela nafas dalam. Menguatkan hatinya. Inilah pekerjaan yang selalu membuatya terluka. Ia tak pernah menyesal berada di dalam tim bantuan bencana, karena di sana ia dapat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang mendapat musibah. Namun, di sisi lain. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa yang ia hadapi tak selalu indah, tak selalu jiwa-jiwa yang bisa ia selamatkan. Ada pula saat-saat di mana ia harus temukan sosok-sosok tak bernyawa dalam penyelamatannya.
Raka berjalan pelan menuju tempat pengungsian, dalam pelukannya Raka membawa sosok wanita muda yang tak lagi ia bisa selamatkan. Air mata berlinang kembali dalam perjalan tersebut. mata nanar, mata penuh kesediahn terpampang jelas dari kedua buah bola mata Raka.
‘Bunda, Ayah, aku ingin bukan sosok kalian yang dulu aku lihat,’ Raka berucap dalam hatinya.
‘Bunda, Ayah, aku berjanji untuk terus berusaha. Menjadi seorang yang kuat, menatap segala kesedihan dan rasa sakit ini. Menghadapi segala kesedihan dan mengubahnya,’ lanjutnya.
Raka baringkan jasad perempuan muda tersebut di daerah pengungsian. Banyak orang yang berkumpul untuk melihat sosok siapa yang baru saja Raka temukan. Seorang anak perempuan kecil berusia delapan tahun berlari ke arahnya, ia terlihat begitu tergesa-gesa.
“Mama..!!!” ucap anak perempuan tersebut kencang.
“Mama.., mama…, ayo bangun. Mama…, jangan mati, mama..,” anak perempuan tersebut berlutut sembari menggoyang-goyangkan tubuh wanita muda tersebut. air mata bercucuran membasahi kedua buah pipinya.
Air mata terus mengalir. Rasa sedih yang anak perempuan tersebut rasakan terasa sampai pada hati Raka. Raka berlutut di dekatnya, memeluk pelan anak perempuan tersebut.
“Menangislah, karena hal ini memang sangat menyedihkan. Namun, cukup untuk hari ini, cukup untuk saat ini. Hidup tak berakhir sampai di sini, bangkitlah kembali anak manis,” sebuah belaian sayang Raka berikan pada anak perempuan tersebut.
Wajah iba dan sedih terpantul dari orang-orang yang melihat hal tersebut. Kesedihan menyelimuti udara, membungkus warna kelam dalam udara.
…
Dua hari telah berlalu, keadaan di tempat pengungsian begitu ramai akan orang-orang yang masih terus membawa kesedihan dalam raut wajah mereka. Raka terbangun dari tidurnya, ia terlihat gontai saat berjalan keluar dari sebuah tenda pengungsian.
“Istirahat dahulu, sobat. Kau sudah terlalu memforsir tenagamu untuk dua hari ini, kau hanya beristirahat untuk sholat dan sejenak menghilangkan dahaga, tak baik untuk kesehatanmu,” Yudha memberikan segelas susu kepada Raka.
“Terima kasih,” ucap Raka pelan.
Ia duduk di luar tenda pengungsian. Menatap ke sekeliling.
“Saatnya makan siang sebentar lagi, kau harus makan sekarang. Karena tugas kita tak hanya di sini, sebagai ahli dongeng kau juga harus beri energi positif abgi anak-anak yang mengalami musibah ini, aku tunggu aksimu,” Yudha tersenyum simpul pada Raka.
Raka yang juga ahli sebagai pendongeng selalu menjadi tim penyembuh trauma musibah bencana bagi anak-anak. Ia bertindak sebagai dokter kejiwaan anak tanpa gelar. Meski hanya melalui sebuah dongeng, ia yakin ia setidaknya bisa untuk kembali menumbuhkan semangat di dalam hati anak-anak.
“Nah, jadi kita bisa belajar dari dongeng yang beru saja kakak ceritakan, tentang kisah rumput liar, ia tak pernah menyerah. Meski kehidupannya tak selalu indah ia bisa untuk bertahan menjalani hidupnya. Ia bangkit meski begitu banyak cobaan menerpanya, kalian juga harus punya semangat itu, jadi kita harus optimis, kita harus tetap terus tersenyum menatap indahnya dunia. Ayo kita pasti bisa melewati segala cobaan yang ada. Karena Allah tak akan memberi cobaan di atas kemampuan hambaNya,” senyum tulus terpasang indah di wajah Raka.
Sosok-sosok orangtua yang mendengarkan dongeng Raka tersenyum mendengar apa yang Raka katakan. Di dalam hati mereka, mereka pun kembali tersadar akan kuasa Tuhan, akan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Mereka akan terus berjuang, menjalani hidup…
Sekian…
23.26 WIB 9 Mei 2011, Depok!!!
Nb:
Mohon maaf bila cerpen ini tidak begitu bagus. Ehm, semoga bisa menjadi sebuah semangat bagi kita untuk berbagi. Seperti apa yang dikatakan seorang temanku di hari ini: setiap orang pasti bisa berkontribusi, karena kontribusi tersebut bisa berbentuk banyak hal.
Terima kasih untuk TBM FK UI untuk kegiatan yang menarik di sabtu dan minggu kemarin. Ini sedikit ucapan terima kasih dari seorang peserta yang sedikit banyak merepotkan kalian semua. Terima kasih untuk waktu dan kerja kerasnya, kegiatan yang luar biasa!!!^^d
UI TANGGAP BENCANA?!
BENCANA DATANG, UI BERAKSI!!!!
Revisi 10 Mei 2011, 17.43 WIB Depok- Perpustakaan FIB-
Entry filed under: cerpen. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed